Taur untuk Bumi dan Tubuh: Upaya Menangkal Wabah Covid-19 dalam Perspektif Sastra

 

Salah satu usaha masyarakat Hindu di Bali untuk menangkal pengaruh buruk dari unsur-unsur negatif (buta) pada diri adalah dengan menggelar upacara taur ketika waktu senjakala pada Tilem Kasanga. Upaya tersebut dilakukan dengan menyiapkan upakara seperti sesajen, segehan, maupun caru.

Setelah melaksanakan Taur Agung, maka dilanjutkan dengan acara ngrupuk yang bermakna memulangkan Bhuta Kala ke tempat asalnya masing-masing dengan menggunakan sarana api dan dilanjutkan dengan tradisi mengarak ogoh-ogoh (simbol buta) keliling desa.

Demikian usaha umat Hindu di Bali untuk memohon perlindungan dan keselamatan dari bahaya dan pengaruh buruk. Selanjutnya, pada keesokan harinya, masyarakat me-Nyepi selama sehari penuh.

Namun, bagi masyarakat Hindu di Bali bahkan warga dunia, pelaksanaan hari suci Nyepi tahun ini menjadi sedikit berbeda. Ada hal yang lebih menakutkan dan menyeramkan daripada sosok buta yang dapat mendatangkan pengaruh buruk bagi kehidupan manusia.

Merebaknya wabah (sasab merana) yang disebut dengan Corona atau Covid-19 di sejumlah daerah membuat masyarakat Hindu di Bali melakukan kegiatan menyepi di rumah masing-masing lebih awal daripada waktu datangnya hari suci Nyepi. Masyarakat diharapkan melakukan kegiatan di rumah masing-masing dan mengurangi aktivitas di luar rumah (social distancing).

Secara etimologi, kata taur berarti membayar, dan arti lainnya yaitu kurban. Selanjutnya, kata agung merujuk pada arti kata besar dalam kaitannya dengan semesta atau kosmos (Bhuana Agung).

Sementara itu, kata kasanga berarti bulan (sasih) kesembilan dalam perhitungan kalender Masehi. Dengan demikian, makna dari upacara Tawur Agung Kesanga adalah upacara atau yadnya yang dipersembahkan kepada alam semesta pada bulan kesembilan, tepatnya pada Tilem Kesanga, dalam perhitungan kalender Masehi.

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan bahwa sebelum upacara taur dilakukan, masyarakat Hindu diharapkan membuat upacara Bhutayajnya berupa caru, dimulai dari desa-desa hingga setiap rumah dengan tingkatan yang paling nista hingga utama.

Lebih lanjut, dijelaskan dalam lontar Sundarigama bahwa pada waktu Tilem Kasanga ini bisa saja terjadi peristiwa-peristiwa atau hal-hal yang aneh akibat kegelapan pikiran manusia. Apabila masyarakat Hindu tidak melaksanakan upacara taur beserta prosesi lainnya, maka akan dapat menimbulkan kehancuran alam semesta (Bhuana Agung), penyakit merajalela (gering sasab marana magalak), dan perilaku manusia yang aneh serta kejam karena dirasuki unsur-unsur buta (wwang kasurupan Kala Buta) dan mengakibatkan huru-hara di mana-mana.

Sebagaimana yang dijelaskan dalam lontar Sundarigama, masyarakat Hindu memiliki dasar sastra dan keyakinan yang kuat bahwa dengan melakukan upacara taur, maka dapat menetralisasi kekuatan-kekuatan yang menyebabkan timbulnya hal-hal yang aneh sehingga alam semesta dapat kembali seimbang dan manusia hidup selamat dan sempurna (mulih hayu ning praja mandhala sarat kabeh, wang ring sarwajanma, wastu ya paripurna).

Menyikapi wabah (sasab merana) Corona atau Covid-19 yang tengah menyerang manusia hampir di seluruh belahan dunia akhir-akhir ini, sepertinya masyarakat Bali memiliki harapan yang begitu besar terhadap jalannya pelaksanaan taur tahun ini. Dengan kata lain, apabila upacara taur dapat dilakukan secara baik dan benar, maka epidemi yang berkepanjangan dan telah menelan korban ribuan orang di dunia menjadi sangat mungkin untuk dihentikan, dan segala hama penyakit pulang kembali ke laut (sasab marana pada mantuk maring samudra).

Apalagi setelah upacara taur, masyarakat Hindu melaksanakan hari suci Nyepi yang diyakini sebagai hari penjernihan batin melalui Catur Brata Penyepian. Selain itu, sehari setelah Sasih Kasanga berlalu, maka Sasih Kadasa yang dianalogikan sebagai keadaan yang bersih atau suci (kedas) diharapkan mendatangkan sesuatu yang lebih baik bagi kehidupan manusia.

Mengacu pada pelaksanaan Nyepi dan segera datangnya Sasih Kadasa setelahnya, manusia mengharapkan dapat membersihkan sekaligus menyucikan dirinya secara batiniah. Namun, kenyataannya, akhir-akhir ini, dengan adanya wabah Covid-19, tubuh manusia (Bhuwana Alit) sepertinya membutuhkan juga suatu persembahan semacam taur untuk menangkal virus yang menyerang manusia secara lahiriah.

Wabah virus yang tengah menjadi ancaman dan kekhawatiran warga dunia ini menyerang tubuh manusia melalui sistem pernafasan sehingga melemahkan fisik, bahkan dapat menyebabkan kematian. Bukankah dalam kitab kuna seperti Wrhspatitatwa disebutkan bahwa Bumi dan tubuh sama-sama disebut dengan Sarwatattwa (hal-hal yang bersifat kenyataan dalam kaitannya dengan unsur-unsur Panca Maha Buta)?

Kelima elemen bumi, yaitu tanah, air, api, angin, dan udara, juga ada di dalam tubuh manusia yang disimbolkan dengan daging, panas tubuh, nafas, dan rongga. Untuk itu, sepertinya tubuh juga memerlukan semacam caru yang diharapkan dapat menangkal penyakit seperti wabah. Lalu caru seperti apa yang dapat dipersembahkan kepada tubuh untuk membuatnya tetap sehat?

Apabila badan halus (suksma sariria) membutuhkan persembahan berupa tapa (pengendalian indera) dan brata (pantangan) untuk dapat membersihkan dan menyucikan diri, maka badan kasar sebagai wadah jiwa (stula sarira) membutuhkan vitamin, protein, mineral, dan lainnya yang berasal dari sari-sari makanan yang baik dikonsumsi tubuh untuk dapat menyehatkan tubuh dan menjauhkan segala macam penyakit.

Teks Nitisastra menyebutkan bahwa tanda makanan yang baik ialah dapat membuat badan sehat (ring wara bhoga pustining awakya juga panengeran). Untuk mendapatkan makanan yang baik, maka penting juga mengetahui makanan yang tidak baik dikonsumsi tubuh yang dapat menjadi racun.

Lebih lanjut, dalam Nitisastra disebutkan bahwa orang yang baik-baik tidak boleh makan daging yang tidak suci. Ia harus menjauhi segala yang mengotori badan dan segala yang mendekatkan musuh lahir-batin kepadanya.

Adapun yang termasuk daging yang tidak baik yaitu daging tikus, anjing, katak, ular, ulat, dan cacing. Semua itu makanan yang terlarang, untuk itu perlu dihindari (haywa mamukti sang sujana karta pisita tilaren, kasmalaning sarira ripu wahya ri dalem aparek, lwirnika kasta mangsa musika sregala wiyung ula, krimi kawat makadinika papahara hilangken).

Sehubungan dengan ulasan yang termuat dalam Nitisastra bahwa makanan yang baik merupakan salah satu sumber kesehatan tubuh, maka ada kemungkinan pula bahwa salah satu penyebab timbulnya wabah Covid-19 yang sedang menyerang manusia bersumber dari makanan yang tidak baik.

Taur pada tubuh dengan jenis makanan, cara mengolah, dan menciptakan rasa nyaman untuk tubuh sangat perlu diperhatikan sebagai upaya untuk menghargai kerja keras tubuh. Apa dan bagaimana makanan yang dimasukkan ke mulut sudah saatnya mendapatkan perhatian penting.

Faktanya, perawatan tubuh dari luar saja, seperti olahraga dan aktivitas memanjakan tubuh lainnya, tidak cukup untuk mewujudkan tubuh yang sehat. Perawatan dalam tubuh melalui makanan-makanan yang dianggap baik dapat membuat wabah atau virus sulit masuk atau pun berkembang di dalam tubuh.

Pada para pendeta (orang suci), misalnya, seperti yang diuraikan dalam lontar Wrati Sasana (teks sasana untuk seorang pandita dalam menjalankan brata), segala jenis makanan yang dimasukkan ke dalam tubuh sangatlah diperhatikan, terutama penganut siddhanta yang melaksanakan brata suci (tan yogya ika bhaksan de sang siddhanta suddha brata).

Jenis makanan yang dianggap tidak suci adalah, misalnya, daging manusia, kera, sapi, harimau, gajah, kuda, kucing, kodok, dan ular. Sementara itu, semua binatang yang bentuknya aneh dikategorikan sebagai makanan yang nista, misalnya lintah, ulat, kuricak, sebangsa biawak, kalajengking, kadal, tokek, dan cecak.

Terdapat pula makanan yang boleh disantap (muwah ikang yogya bhaksaken), di antaranya babi hutan, ayam hutan, kerbau, itik, burung, dan segala jenis ikan sungai dan ikan laut kecuali jenis buaya dan ikan besar dengan wajah menyeramkan.

Lebih lanjut, proses memasaknya pun perlu diperhatikan. Apabila saat proses mengerjakan makanan yang dibuat dihinggapi binatang seperti lalat, nyamuk, limpit, tuma, tengu, kutu busuk, kapinjal, maka demikian itu cemar adanya, tidak benar disantap karena telah dianggap kotor.

Ada berbagai macam tumbuhan yang tumbuh di bumi. Namun tidak semua tumbuh-tumbuhan yang berdaun hijau dapat dikonsumi untuk mendapatkan asupan vitamin maupun zat yang baik untuk tubuh dari unsur nabati. Demikian pula, untuk memperoleh zat untuk tubuh yang berasal dari unsur hewani, apabila mengacu pada dua teks lontar, yaitu Nitisastra dan Wrati Sasana, tidak semua jenis binatang dapat dikonsumsi untuk tubuh.

Selain makanan yang baik, lebih lanjut perlu juga memperhatikan kesuciannya sehingga layak dijadikan persembahan untuk tubuh.

Makanan yang baik, bersih, dan suci itulah yang hendaknya di-sadana-kan untuk tubuh, dijadikan persembahan (taur). Kapan taur untuk tubuh dilakukan? Itu semua diserahkan pada individu masing-masing.

Bumi (jagad besar) dan tubuh (jagad kecil) sama-sama harus dipelihara dan diseimbangkan dengan baik. Bumi adalah ruang untuk hidup bagi seluruh ciptaan-Nya. Sementara tubuh adalah stana atma untuk tetap hidup. Untuk itu, penting untuk dirawat dan dijaga keseimbangan keduanya.

 

LUH YESI CANDRIKA, pemerhati sastra Bali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *