Tiga Musikus Hadirkan Lagu “Di Mata Semesta” untuk Indonesia Inklusif

 

Berjuta pasang mata yang menyala

Berjuang menatap masalah yang ada

Hanya debu kecil di alam raya

Di mata semesta, kau dan aku sama saja

 

Demikianlah penggalan lirik lagu “Di Mata Semesta”. Lagu ini tercipta dari kolaborasi tiga musikus ternama Indonesia. Mereka adalah Dewa Budjana, Asteriska dan Hindia (Baskara Putra). Budjana bertindak sebagai penggubah lagu dan penata musik. Lirik ditulis oleh Hindia bersama Asteriska, dua penyanyi yang kemudian mengisi vokal lagu ini.

Selain Budjana pada gitar, sejumlah pemusik kondang lain ikut terlibat. Ada Saat Syah pada suling, Jalu G. Pratidina pada kendang, dan Ronald Fristianto pada drum.

Kehadiran lagu “Di Mata Semesta” terasa sangat bermakna di tengah cuaca intoleransi yang belakangan kerap menyinggahi negeri kita. Diselesaikan pada November lalu, lagu ini mempromosikan kesetaraan di antara sesama manusia. Kita diajak untuk memandang dan memperlakukan setiap orang secara setara dan sederajat. Semua insan pada dasarnya sama, tidak ada yang lebih mulia atau lebih hina.

Keterlibatan Budjana dalam lagu “Di Mata Semesta” tidak begitu mengejutkan. Selama ini, Budjana memang dikenal sebagai musikus yang toleran. Gitaris asal Bali ini kerap ikut memproduksi lagu-lagu bernuansa religius yang menggemakan ajaran beberapa agama di Indonesia.

Hindia dan Asteriska memberikan sentuhan menarik. Dalam lagu “Di Mata Semesta”, Hindia membuktikan diri sebagai musikus muda yang peduli pada kekuatan makna dalam karya musik. Asteriska menghadirkan citra keindonesiaan melalui kepeduliannya terhadap musik Nusantara.

Selain mengumandangkan semangat kesetaraan, lagu “Di Mata Semesta” membawa spirit keindonesiaan yang kuat. Unsur sinden mewarnai vokal Asteriska. Instrumen tradisional Nusantara memberikan cita rasa musikal yang kental dengan ciri Indonesia. Ada perkusi dari Jawa Barat, juga suling dari Kalimantan. Penampilan berbagai masyarakat adat dalam klip video lagu ini semakin menegaskan pesan keindonesiaan.

Penciptaan lagu “Di Mata Semesta” merupakan bagian dari gerakan Indonesia inklusif (#IDInklusif) yang digulirkan Program Peduli. Budjana, Asteriska dan Hindia digandeng oleh Program Peduli untuk menciptakan lagu bertema Indonesia inklusif.

Program Peduli adalah gerakan nasional untuk meningkatkan inklusi sosial bagi kelompok masyarakat  yang terpinggirkan di Indonesia. Gerakan ini menjangkau komunitas-komunitas marginal yang kurang mendapatkan akses layanan pemerintah dan program perlindungan sosial.

Program Peduli menyasar anak dan remaja rentan, termasuk anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial, anak pekerja migran, anak yang berada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Kelompok lain yang disentuh program ini adalah orang dengan disabilitas, transpuan atau waria, korban pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat, masyarakat adat dan lokal terpencil yang bergantung pada sumber daya alam, serta penghayat kepercayaan dan pemeluk agama minoritas yang menjadi korban kekerasan.

Abdi Suryaningati dari Program Peduli mengatakan, inklusi sosial yang diupayakan Program Peduli telah menyentuh banyak individu dari komunitas yang selama ini terpinggirkan serta mendapatkan stigma dan diskriminasi.

“Penting bagi kami untuk memperluas nilai dan gerakan inklusi sosial ini di tengah kondisi masyarakat yang mulai terkotak-kotakkan. Mudah-mudahan kolaborasi musik ini bisa menyentuh dan menginspirasi, terutama anak muda, untuk bersikap inklusif dan berbuat sesuatu untuk gerakan inklusi sosial,” ujar Abdi.

Tayang di Youtube, klip video lagu “Di Mata Semesta” menampilkan cuplikan dokumentasi dari berbagai wilayah kerja Program Peduli di Indonesia. NAWABALI

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *