Pameran Lukisan “Re-imaging Identity”: Ketika Suja Pertanyakan Wajah Bali

 

BAGAIMANAKAH wajah Bali masa kini di mata seorang pelukis?

I Wayan Suja, pelukis Bali kelahiran 1975, menggunakan citra wajah perempuan Bali sebagai kiasan untuk menyampaikan pandangannya tentang situasi kontemporer Bali. Dalam pameran tunggalnya yang bertajuk “Re-imaging Identity”, ia banyak menampilkan lukisan bersubjek wajah perempuan Bali.

Identitas ke-Bali-an perempuan pada kanvas Suja sering ditandai dengan kehadiran atribut tradisional Bali. Hiasan kepala, gaya rambut dan subang khas yang dikenakan perempuan-perempuan itu jelas mengabarkan identitas mereka sebagai orang Bali.

Namun ada yang unik pada gambaran perempuan Bali yang dihadirkan Suja. Perempuan Bali dalam lukisan-lukisan terbarunya tampak menyimpang dari kelaziman. Suja seperti menolak citra klasik ideal perempuan Bali seperti yang biasa ditampilkan dalam banyak penggambaran konvensional tentang Bali. Para perempuan Bali pada kanvasnya tidak memamerkan kesempurnaan dan kemolekan. Sebaliknya, mereka justru tidak segan-segan memperlihatkan kekurangan, cacat, parut luka dan tanda-tanda ketidakstabilan.

Dengan paduan teknik lukis realisme dan abstrak, Suja “mengupas” wajah perempuan Bali untuk menyingkapkan kenyataan yang tersembunyi di baliknya. Sapuan warna yang tidak beraturan, coretan liar, guratan aksara tanpa makna, dan motif hias banal, menyerbu wajah perempuan Bali. Ada wajah perempuan yang seperti terkoyak kulitnya. Ada wajah yang terkena “tato” dari lingkungan sekelilingnya. Bahkan ada wajah yang nyaris lenyap ditelan gelombang tsunami garis, bentuk dan warna.

Wajah perempuan dalam lukisan Suja menggemakan wajah Bali masa kini yang kelihatan elok di permukaan, tapi sesungguhnya menyimpan banyak masalah, gejolak dan keresahan. Suja secara simbolis mengungkapkan realitas Bali yang sesungguhnya begitu karut-marut, namun selalu ditutupi dengan kosmetik pencitraan tebal dan menor. Dengan membeberkan kesemerawutan di seputar kecantikan perempuan, Suja mempertanyakan citra kemolekan yang melekat pada identitas Bali. Penggunaan warna yang tidak alami pada wajah perempuan dalam lukisannya mengisyaratkan bahwa gagasan tentang identitas Bali yang eksotis adalah ilusif dan artifisial.

Bukan baru kali ini Suja melontarkan pertanyaan kritis tentang identitas Bali. Menurut penulis seni, Dwi S. Wibowo, karya Suja telah mengangkat persoalan identitas Bali sejak awal tahun 2000-an.

Dalam karya-karya lamanya, Suja kerap mempersoalkan identitas Bali lewat penggambaran manusia tradisional Bali yang terselubungi plastik. Citra plastik bisa menyimbolkan komoditas, konsumerisme, modernisme, juga sampah yang menyodorkan problem besar di Bali. Figur berselubung plastik seolah menjadi ciri khas lukisan Suja pada masa lalu.

Meski masih berkutat dengan isu identitas Bali yang digelutinya sejak lama, ungkapan artistik yang digunakan Suja dalam pameran tunggalnya yang keempat ini tampak baru. Jelas terlihat perubahan besar pada bahasa lukis Suja. Corak realisme, yang seakan telah menjadi “identitas” karya lukis Suja selama ini, tidak lagi hadir. Kini lukisan Suja tidak mengejar kemiripan dengan kenyataan, tetapi lebih mengedepankan spontanitas ekspresi. Bahasa lukis Suja tidak lagi menuntut kecermatan dan ketelitian tingkat tinggi dalam penggarapan detail seperti dulu.

Dengan mengambil gaya lukis yang ekspresif, proses melukis tentu bisa berlangsung lebih cepat. Selain kebutuhan batin untuk menjelajahi wilayah artistik baru, masalah waktu memang menjadi alasan Suja dalam mengubah bahasa lukisnya. Suja mengakui terus-terang, situasi dirinya sekarang tidak menyediakan banyak kesempatan untuk melukis dengan gaya realisme yang tentu menyita banyak waktu. Bahasa lukis semi-abstrak yang berkarakter ekspresif menjadi solusi bagi Suja untuk tetap produktif berkreativitas di tengah berbagai kesibukan yang mengepungnya.

Transformasi dramatis seni lukis Suja dalam pameran ini terasa menggarisbawahi tema identitas yang dikibarkan dalam karya-karya sang perupa. Melalui perubahan bahasa lukisnya, Suja seperti menegaskan bahwa identitas bukanlah sesuatu yang permanen, stabil dan ajek. Identitas apapun, tak terkecuali identitas Bali atau identitas manusia Bali, tidaklah statis. Identitas selalu dinamis, bergerak seiring perjalanan waktu, senantiasa berada dalam kancah pertarungan berbagai pengaruh, kekuatan dan kepentingan.

I Wayan Suja

Pameran “Re-imaging Identity” berlangsung pada 15 November – 15 Desember di The Gallery, Maya Sanur Resort & Spa, Sanur, Bali. NAWABALI

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *