Seni Video dari Taiwan Bertandang ke Bali

 

DALAM simposium di Korea Selatan, profesor seni rupa Gong Jow Jiun dari Tainan National University of the Arts, Taiwan, menyebut Taiwan sebagai negeri yang ambigu secara  geografis maupun kultural. Negara pulau mungil di seberang Tiongkok Daratan itu sulit dianggap bagian dari Asia Timur, Asia Selatan ataupun Asia Tenggara. Orang Taiwan berasal dari Tiongkok, tapi politik meminta mereka untuk selalu membedakan diri dengan saudara-saudara mereka di Republik Rakyat Tiongkok. Taiwan seakan berada di posisi ambang, terapung di antara identitas-identitas di sekelilingnya.

Barangkali situasi itulah yang menyebabkan seniman Taiwan seperti terobsesi dengan persoalan identitas. Setidaknya, begitulah kesan yang tertangkap dari video-video karya perupa Taiwan yang dihadirkan di area luar AB-BC Building, Nusa Dua, Bali, pada 9 November. Perkara identitas kultural, religius dan geografis tampak pekat meresapi lima karya seni video dari Pameran Seni Video Internasional Taiwan yang ditayangkan dalam acara bertajuk “Rewind”. Acara ini terselenggara berkat kerja sama Ketemu Project dan Hong-Gah Museum Taiwan. Selain pemutaran film, acara juga diisi diskusi bersama kurator Zoe Yeh dari Taiwan.

DOK. ART BALI

Video pertama yang ditampilkan adalah “The City Where No One Walks” (2019) karya Cheng Ting-Ting. Dalam video berdurasi 15 menit ini, Ting-Ting menjelajahi hubungan antara agama dan kesehatan jiwa. Wawancara dengan tabib, misionaris, dukun dan terapis mendominasi karya video ini.

Hanya berdurasi 8 menit 36 detik, video “The March of the Great White Bear” (2017) karya Lo Sheng-Wen tampil di giliran kedua. Karya ini secara ironis menyoroti dilema program pemeliharaan binatang dalam kurungan seperti yang ada di kebun binatang. Sheng-Wen merekam perilaku repetitif beruang kutub dalam sangkar, beserta manusia yang menontonnya, dari 17 lokasi di seluruh dunia.

Video berikutnya berjudul “Marshal Tie Jia: Jingsi Village” (2013) karya Hsu Chia-Wei. Karya berdurasi 10 menit ini merupakan suatu “percakapan” antara Hsu dan dewa katak Marshal Tie Jia. Hsu berkunjung ke telaga tempat Marshal Tie Jia dilahirkan. Di telaga itu, ia menggelar kembali ritual eksorsisme kuno bersama warga desa dan kelompok “Tari Nuo” yang berkerabat dengan sang dewa dan pernah dicekal pemerintah pada masa Revolusi Kebudayaan.

Zoe Yeh. DOK. ART BALI

Selanjutnya, “Shui Yuan Lin Legend: First, Second and Fourth Episodes” (2013-14) karya Chen I-Chun ditayangkan. Dalam video sepanjang 15 menit ini, Chen memadukan kolase, animasi, scroll dan lukisan untuk menyusun kisah legenda Shui Yuan Lin. Namun legenda itu sesungguhnya menceritakan sejarah keluarga sang perupa sendiri yang sempat terkubur.

Pemutaran video diakhiri penayangan “Caecuscreaturae” (2019) karya Liu Yu. Berdurasi paling panjang, 32 menit, video ini merupakan karya dokumenter tentang Georg Eberhard Rumphius (1627-1702), biolog Jerman yang dipekerjakan VOC di Maluku pada abad ke-17. Liu menyusuri jejak Rumphius di Ambon dan mewawancarai sejumlah orang tentang sosok yang namanya menjulang lewat buku Herbarium Amboinense karyanya itu.

Di pengujung acara “Rewind”, tema Pameran Seni Video Internasional Taiwan untuk tahun 2020 diumumkan pertama kalinya: Anima. Seniman dari seluruh penjuru dunia dapat mengajukan karya video untuk ikut pameran ini. NAWABALI

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *