Rockness Studio Session #3, Keintiman Suguhan Eksperimen Musik Resonansi Ruang

 

Malam minggu ke-4 November menawarkan begitu banyak pilihan untuk pasangan muda. Kantong-kantong komunitas begitu bersemangat menyemarakkan ruang-ruang kreatif, mulai dari pentas pertunjukan, festival noise/eksperimental, pemutaran film hingga acara musik untuk penggalangan dana. Di antara berbagai pilihan tersebut, terselip sebuah acara kecil yang unik (kalau tidak mau dibilang aneh): Rockness Studio Session #3.

Terasa sedikit aneh ketika selebaran yang beredar tentang Rockness Studio Session tahu-tahu menunjukkan seri ketiga. Tidak pernah ada publikasi dua seri sebelumnya. Selebaran dua seri terdahulu bahkan tidak ada di akun media sosial Rockness Music, penyelenggara acara.

Acara dilangsungkan di studio Rockness Music yang menyempil di antara barisan bangunan yang memadati pinggir Jalan Raya Batubulan. Butuh sedikit usaha untuk menemukan lokasi acara, selain karena lalu lintas jalan Batubulan yang padat, juga karena papan petunjuk keberadaan studio musik itu yang hanya berukuran kecil.

Rockness Studio Session #3 menampilkan band Resonansi Ruang, Soul And Kith dan Andre Tovan (vokalis band Kanekuro). Jika melihat daftar penampil, hal yang terbayang pertama tentu mereka akan bermain secara bergiliran. Bayangan ini langsung sirna ketika, pada pukul 20.00, semua pengisi acara masuk ke dalam ruang studio secara bersamaan.

Soul And Kith malam itu hanya menghadirkan Ardy, sang gitaris. Andre Tovan hadir dengan senjata synthesizer, instrumen yang dikuliknya.

Resonansi Ruang datang dengan kekuatan penuh. David, sang vokalis, tidak hanya membawa gitar akustik string dan nilon, tapi juga instrumen rakitan. Selain David, ada Reksa pada gitar elektrik, Ari Diablo pada bass, Dayat pada drum, serta Ali Agung pada biola.

Resonansi Ruang lahir pada awal Maret 2014 lewat proses bermusik David (vokal, gitar string dan nilon) dan Jovan (vokal pendukung/bow/ gitar elektrik). Pada masa awal, Resonansi Ruang memainkan perpaduan folk dan ambient. Semenjak 2018, termasuk pada penampilan di Rockness Studio Session #3, musik Resonansi Ruang diperkaya dengan kehadiran pemain bas.

Keberanian sekaligus keterbukaan Resonansi Ruang untuk memasukkan beragam bebunyian ke dalam komposisi folk membuat mereka menyandang sebutan experimental post-folk. Itulah sebutan yang muncul setelah orang melihat perjalanan mereka, dan digunakan untuk mempermudah pengklasifikasian (walau sebenarnya tidak penting benar; sebab bukankah musik hadir untuk dinikmati, bukan untuk diklasifikasi?).

Keberanian Resonansi Ruang untuk bereksperimen tidak hanya terlihat dari kehadiran bunyi yang dihasilkan instrumen David. Sang vokalis memainkan instrumen berbahan dasar barang bekas yang dirakitnya sendiri. Semangat bereksperimen juga terasa ketika mereka melibatkan musisi lain dalam penampilan kali ini.

“Proses kolaborasinya mengalir saja,” kata David. Dijelaskannya, Resonansi Ruang tidak menentukan dulu akan berkolaborasi dengan siapa.

David merasa sangat terkesan dengan hasil penampilan kolaborasi malam itu. Pasalnya, Resonansi Ruang hanya sempat latihan sekali bersama Andre Tovan. Bahkan mereka baru bertemu Ardy di studio malam itu, tanpa pernah latihan. “Sama Ardy langsung spontan,” ujar Ari Diablo, sang pemain bas, menambahkan.

Menurut Andre Tovan, kolaborasi tersebut sebenarnya aman-aman saja, karena Resonansi Ruang memberikan kebebasan dalam prosesnya. “Hasil live-nya, ya begitulah. Kita lihat saja nanti bagaimana hasilnya,” ujar vokalis yang bersama band-nya, Kanekuro, belakangan ini berkutat di studio untuk menyelesaikan album mereka.

Ardy menjelaskan alasan ketidakhadiran rekannya sesama personil Soul And Kith, Aik Krisdianty. “Sorry, Aik ndak bisa datang karena sakit,” katanya.

Sang gitaris kemudian menceritakan perasaan antara bingung dan terkejut yang dialaminya karena tidak tahu harus memainkan lagu Resonansi Ruang dari mana. “Pokoknya D, sisanya ambyar,” ungkapnya terus terang, diikuti tawa Andre dan personil Resonansi Ruang.

“Tetapi Ardy kan gitaris hebat. Tinggal bilang do di D, oke, siap, hajar!” timpal Andre dengan nada bercanda.

“Asyik, sih. Asyik. Masuknya dapat, feel-nya juga dapat. Kalau kita diajak jamming, yang susah kan menyatukan feel-nya,” kata Ardy mengemukakan hasil “dibantai” Resonansi Ruang.

Obrolan terjadi seusai mereka tampil membawakan lagu-lagu Resonansi Ruang, seperti I See Green Light in Her Smile, Let’s Make All The Fear Gone, Shadow Of Tomorrow, One and Only, Disappear Completely dan Kelikit Rauh. Obrolan berlangsung intim dan lepas, tentu saja, setelah selama sekitar 50 menit mereka berkomunikasi intensif dengan mengunakan instrumen masing-masing.

Teguh Narakusuma, pemilik studio, menjelaskan tujuan Rockness Music menyelenggarakan Rockness Studio Sessions. “Kami mencoba menyajikan pertunjukan yang intens bagi musisi, termasuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan kolaborasi, dan di saat yang sama juga menghadirkan keintiman antara musisi dan penonton,” paparnya.

Konsep studio gigs atau pementasan musik di studio yang diusung Rockness Studio Session sesungguhnya bukan hal baru. Pada 1990-an, konsep ini menyediakan panggung untuk band-band masa itu.

Selain membawa nostalgia ke era 1990-an, kehadiran kembali konsep studio gigs dalam Rockness Studio Session juga memberi kesegaran dan variasi bentuk pilihan panggung musik. Belakangan ini, panggung musik yang semarak lebih sering digelar di lapangan, pantai, bar atau ruang kreatif. Namun Rockness pilih menghadirkan kembali konsep studio gigs dengan keintimannya, dan tentu saja penonton yang terbatas dan bergiliran.

“Penampilan live kawan-kawan musisi ini juga direkam dalam bentuk audio dan video,” papar Teguh yang juga berprofesi sebagai sound engineer. Hasil rekamannya bisa dinikmati masyarakat luas di kanal  Rockness Channel di Youtube.

Harga tiket masuk untuk menonton Rockness Studio Session #3 tergolong unik, yaitu dua biji tanaman buah. Itulah  sebentuk dukungan terhadap gerakan “Sebiji untuk Bumi” yang dilakukan oleh anak muda yang terkumpul dalam komunitas Wisanggeni. “Kami coba berbagi ruang untuk komunitas yang memiliki inisiatif sosial, “kata Teguh. “Karena itu, pada seri ke-3 ini, kami membuat publikasi sederhana di media sosial.”

Rockness Studio Session cukup berhasil menghadirkan tidak hanya serangkaian kemungkinan eksperimen musik, tapi juga pertemuan terkait gerakan sosial di Bali. Dari acara kecil dan sederhana ini, berbagai kemungkinan diupayakan bergerak saling mengisi. Seperti kata Ardy, yang diamini musisi-musisi lain yang terlibat malam itu, program seperti ini diharapkan bisa konsisten dan berlanjut, mengingat ada begitu banyak band di Bali.

Kolaborasi Resonansi Ruang dengan Ardy (Soul And Kith) dan Andre (Kanekuro) merupakan seri ketiga Rockness Studio Session. Seri pertama diisi B.U.K.T.U yang berkolaborasi dengan Oka, gitaris band Cassadaga. Pada seri kedua, band eksperimental Matrix Collapse berkolaborasi dengan alunan vokal Eko Protojoyo dari Malang.

Menarik menunggu konsistensi, kontinuitas dan kolaborasi apa yang akan dihadirkan dalam Rockness Studio Sessions seri selanjutnya.

 

L. TAJI, penulis dan fotografer

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *