THE DIVINE STEP: 19 Perupa Menjelajah Kebaruan

 

Apa yang sebaiknya dihadirkan untuk menyambut kebaruan? Agaknya tak ada yang lebih tepat daripada menghadirkan sesuatu yang berkaitan dengan situasi baru.

Sebanyak 19 perupa menjelajah kebaruan di ruang baru. Dalam pameran seni rupa bertajuk “The Divine Step”, mereka menampilkan karya-karya yang berbicara seputar kebaruan.

Ada karya baru. Ada semangat pencarian baru. Ada pula pemikiran tentang kenyataan baru. Wacana kebaruan memancar dari lukisan, patung, instalasi dan mural yang dipamerkan para perupa.

Pameran memang digelar di ruang baru untuk seni rupa, Galeri Zen1. Galeri yang berlokasi di Jalan By Pass Ngurah Rai No. 50, Kuta, Bali, ini diluncurkan pada 7 Maret, berbarengan dengan pembukaan pameran “The Divine Step”. Kepala Dinas Kebudayaan Bali, I Wayan Adnyana, meresmikan galeri sekaligus menjadi salah satu peserta pameran.

Pencapaian artistik para perupa yang terlibat dalam pameran ini tergolong sudah matang. Kebanyakan dari mereka berumur 30-an dan 40-an tahun. Beberapa bahkan terhitung sebagai perupa kawakan, berusia 60-an. Semua dapat dikatakan telah menemukan gaya khas pribadi dalam karya masing-masing.

Meskipun demikian, berpameran di ruang baru tampaknya merangsang mereka untuk berusaha tampil dengan wajah kekaryaan baru. Sejumlah perupa menampilkan karya yang berbeda dengan kelaziman karya mereka selama ini.

Putu Bonuz tampak paling radikal menghadirkan kebaruan. Selama ini Bonuz dikenal sebagai pelukis dengan karya bercorak ekspresionisme abstrak. Namun dalam pameran kali ini, ia berani mengetengahkan karya instalasi dari sepatu-sepatu sneakers yang dilukis.

Kebaruan juga terlihat pada lukisan Ida Bagus Putu Purwa. Meski tahun penciptaannya tidak baru, lukisan berjudul “The Prince” tidak segaris dengan jalur tematik karya-karya Purwa yang banyak dikenal publik. Subjek lukisan bukan lagi tubuh laki-laki setengah telanjang yang khas Purwa, melainkan mobil VW kodok yang menjadi karakter fiksional dalam film “Herbie”.

Kurator pameran, Eddy Soetriyono, memuji upaya pembaruan kreatif yang dilakukan para perupa. Dikatakannya, Purwa “berani berhenti ketika tema maupun pilihannya hendak masuk ke arah rutinitas yang tak lagi menggetarkan hati dan menumbuhkan semangat kreatif”. Pelukis lain, Teja Astawa, “lompatan-lompatan kreatifnya sungguh mencengangkan”. Nyoman Sujana Kenyem juga “dengan berani melakukan lompatan yang sejauhnya”.

Pelukis senior, Sutjipto Adi, tidak mau ketinggalan. Melalui lukisan berjudul “Future”, Adi memperkenalkan pembaruan terhadap gaya lukis realisme yang selama ini menjadi ciri khas karyanya. Ia dengan berani memasukkan unsur abstrak gestural yang ekspresif ke dalam lukisan. Terciptalah paduan yang mengejutkan antara kalkulasi dan spontanitas, nalar dan emosi, keteraturan dan kekacauan.

“Dalam perkembangannya kini,” catat Eddy Soetriyono, “Adi hendak menggarisbawahi segi ekspresi dari hipperealisme yang sudah sangat dikuasainya itu, sehingga kian jauh meninggalkan sekadar soal ‘badan’, melainkan juga menyangkut jiwa dan roh.”

Sejumlah perupa lain memaknai kebaruan secara simbolis. Pematung senior, Bambang Adi Pramono, menghadirkan patung janin sebagai simbol kebaruan dalam karya “Life Begin”. Citra bayi juga menempati posisi sentral dalam lukisan Kun Adnyana yang bertutur tentang kebaruan, “New Passion”.

Kontras antara lama dan baru, kekunoan dan kekinian, dipaparkan secara simbolis oleh Ketut Lekung Sugantika. Dalam seri lukisan “The Heritage Paradise”, Lekung menampilkan citra bangunan candi coklat-kehitaman yang disabet oleh sapuan abstrak warna-warni cerah serupa selendang pelangi.

Beberapa perupa menyoroti situasi kultural baru yang dialami masyarakat kontemporer. Wai, satu dari dua perupa perempuan yang ikut pameran ini, mengomentari kegandrungan manusia zaman sekarang terhadap ponsel. Menariknya, komentar tentang kondisi kekinian itu diungkapkan dengan lukisan cat minyak bergaya klasik Eropa.

I Gede Jaya Putra menyoal arus modernitas yang melepaskan perempuan dari ikatan tradisi. Dalam karyanya yang keluar dari format lukisan konvensional, ia bercerita tentang Dewi Saraswati yang telah pergi meninggalkan tempat tradisionalnya di bunga teratai untuk menjadi perempuan kekinian.

Waka dan Hanh merespons kebaruan dengan menyelewengkan citra pahlawan pop kontemporer. Dalam lukisannya, Waka memasang wajahnya sendiri pada figur superhero kondang seperti Superman dan Batman. Hanh mengaburkan batas antara patung dan mainan dalam karya tiga dimensi yang mencampur karakter superhero-superhero yang berbeda. Misalnya, Hulk berpenampilan James Bond.

Perupa lain yang terlibat dalam pameran “The Divine Step” adalah Atmi Kristiadewi, Dodit Artawan, Ida Bagus Indra, Maureno Kustarjo, Michael Palilingan, Uuk Paramahita dan V. Dedy Reru.

Pameran berlangsung hingga 21 Maret. NAWABALI

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *