GEGURITAN SALAMPAH LAKU: Mahakarya Sastra Ida Pedanda Made Sidemen

Bagian Satu

 

Geguritan Salampah Laku merupakan salah satu karangan pengarang besar Bali abad ke-20, Ida Pedanda Made Sidemen (1858-1984). Berupa puisi tradisional Bali, karya sastra ini dibangun dari tiga belas jenis pupuh, yaitu Sinom, Mijil, Adri, Dangdang, Pangkur, Ginanti, Kumambang, Pucung, Magatruh, Semarandana, Warsi, Durma dan Ajrum.

Sosok pengarang ini juga dikenal sebagai seorang arsitek tradisional Bali yang terkemuka dan telah melahirkan sejumlah karya arsitektur. Beliau tidak hanya ahli sebagai pemahat (arsitek), akan tetapi karya-karya beliau mendapat pujian.

Kisah perjalanan beliau dalam pendakian ilmu digambarkan dengan detail dalam teks Geguritan Salampah Laku. Runtutan tempat, waktu dan peristiwa yang digambarkan menjadi ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan karya sastra lain.

Gelar sebagai seniman yang serba bisa sepertinya memang layak disematkan pada beliau. Gaya kepengarangan Ida Pedanda Made Sidemen memiliki ciri khas dari cara beliau memilih dan menggunakan kata.

Karya sastra ini mengisahkan tentang perjalanan Ida Pedanda Made Sidemen dengan sang istri ketika melakukan pengembaraan. Mereka berjalan menyusuri desa-desa sampai tiba di Mandaragiri (Geria Mandara, Sidemen, Karangasem), tempat berguru Ida Pedanda Made Sidemen. Latar kehidupan sosial budaya Ida Pedanda Made Sidemen menjadi hal yang menarik untuk ditelisik dalam karya ini.

Teks Geguritan Salampah Laku diawali dengan pengungkapan kerendahan hati seorang pengarang. Selanjutnya digambarkan secara garis besar mengenai isi cerita. Tokoh diceritakan meninggalkan rumah tempat tinggalnya. Ia pergi mengembara tanpa berbekal apa pun dan tanpa tuntunan.

Kepergiannya ditemani oleh sang istri yang teramat setia. Akan tetapi sang istri sangat sedih ketika harus meninggalkan rumah untuk melakukan pengembaraan.

Pengarang mulai memperkenalkan dirinya yang merupakan seorang keturunan Brahmana, yang berasal dari Gria Taman (Intaran, Sanur). Ialah Ida Pedanda Made Sidemen.

Dikisahkan bahwa Ida Pedanda Made Sidemen menasehati istrinya untuk selalu hidup dalam kesederhanaan dan senantiasa mengisi diri dengan segala macam pengetahuan. Seperti halnya kosali, yakni ilmu arsitektur yang dipelajari Ida Pedanda Made Sidemen untuk memperoleh penghasilan dan juga membantu orang banyak.

Aktivitas kependetaan senantiasa beliau lakukan. Ida Pedanda Made Sidemen baru dua kali berguru. Kemudian timbullah keinginan beliau untuk berguru ke Gria Mandaragiri.

Perjalanan Ida Pedanda Made Sidemen beserta istrinya diawali dari selatan (Sanur), menyusuri garis pantai, melewati gunung. Banyak hal dijumpainya dalam perjalanan, termasuk barisan pohon pandan berduri dan burung-burung.

Di sepanjang perjalanan, Ida Pedanda Made Sidemen senantiasa memberikan nasihat-nasihat kepada istrinya. Beliau menasehati istrinya tentang kesederhanaan, “myasa lacur“, dan agar selalu mengisi diri, ‘Tong ngelah karang sawah, karang awake tandurin’. Ada pula keutamaan lainnya, yakni penguasaan dan pelaksanaan pengetahuan dalam suatu tindakan kerja, “guna dusun“. Beliau juga memberikan gambaran mengenai sang guru yang ingin ditemui di Gria Mandaragiri.

Perjalanan yang dilalui sangatlah panjang dan melelahkan. Dalam perjalanan yang sedikit samar-samar, tibalah mereka di Semara Pura (Klungkung). Kemudian mereka melewati Sungai Unda dan melanjutkan perjalanan ke selatan menyusuri desa-desa.

Diceritakan pula, mereka tiba di Desa Talibeng dan beristirahat di sana. Di desa tersebut terdapat sebuah pancuran utama. Di sanalah mereka membersihkan diri dan melakukan japa, doa. Aktivitas penyucian diri dan pemujaan tidak pernah terlewatkan dalam pengembaraan. Kemudian mereka kembali melanjutkan perjalanan dan melewati kuburan.

Ida Pedanda Made Sidemen beserta istrinya melanjutkan perjalanan ke selatan. Kemudian tibalah beliau di Mandaragiri.

Setibanya di Gria Mandaragiri, Ida Pedanda Made Sidemen memohon tuntunan dari sang guru. Dengan kerendahan hati, beliau menyampaikan tujuan dan maksud kedatangannya. Diterimalah Ida Pedanda Made Sidemen sebagai murid dari sang guru yang bernama Ida Pedanda Rai.

Kisah perguruan Ida Pedanda Made Sidemen sangatlah bermanfaat. Banyak pengetahuan yang diperoleh. Pada masa bergurunya ini, Ida Pedanda Made Sidemen juga melakukan upacara penyucian diri, madhiksa.

Sang guru banyak memberikan tutur kepada Ida Pedanda Made Sidemen tentang kepanditaan, seperti puja dan mudra. Selain itu, beliau juga banyak belajar berbagai pengetahuan tentang sastra. Di antaranya, Bhairawa Kalpa Sanghara, Tantri Pisacarana dan Siwagama. Beliau juga senantiasa melakukan aktivitas kepanditaan, yakni Siwapuja.

Dikisahkan pada bagian selanjutnya, Ida Pedanda Made Sidemen beserta istrinya mohon pamit kepada sang guru untuk pulang ke Gria Taman. Mereka pun berangkat pada siang hari.

Dalam perjalanan, beliau bertemu dengan seorang ahli Kawi-Bali kuna yang bernama Ida Bagus Djelantik. Pada pertemuan inilah Ida Pedanda Made belajar tentang pupuh, mulai dari menulis hingga menembangkannya.

Selanjutnya, dalam perjalanan pulang, Ida Pedanda Made dan istrinya bertemu dengan burung-burung yang melewati mereka. Terdapat burung gagak, cangak, tadhasih dan bangau. Ida Pedanda Sidemen bersama istrinya akhirnya tiba di Pura Masceti.

Selanjutnya perjalanan diteruskan menuju selatan. Banyak desa dilalui. Ida Pedanda Made Sidemen dengan senang hati membantu warga desa yang mengalami kesulitan.

Banyak ilmu yang diinformasikan oleh Ida Pedanda Made Sidemen, seorang wiku yang serba bisa. Pantaslah pengarang ini dijuluki pengarang besar Bali abad ke-20 yang memahami dan menekuni bidang arsitektur dan sastra. Ilmu yang diwariskan, di antaranya, mengenai Patapakan Barong, Dharma Satya, Asta Bumi serta hakikat Upakara.

 

LUH YESI CANDRIKA, pemerhati sastra Bali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *