“Muda Muda” dari Dwi Iskandar untuk Mojo Batik Festival

BATIK memiliki ritus tersendiri dan banyak cerita yang bergulir menarik sebagai wastra asli Indonesia. Dalam pesta seni-budaya Mojo Specta yang akan digelar pada 21-25 November, kota Mojokerto di Jawa Timur mempersembahkan Mojo Batik Festival (MBF). Festival batik ini akan berlangsung dua hari, 23 dan 24 November. Sejumlah desainer ternama akan menampilkan kreasi busana yang tercipta dari keindahan batik nusantara.

Tujuan MBF adalah memperkenalkan dan menumbuhkan minat masyarakat terhadap kerajinan batik khas Mojokerto. Mengangkat tradisi batik yang telah ada di Mojokerto sejak zaman Majapahit, festival batik ini mengusung tema “Sisik Grinsing Tribuana Tunggadewi”. Tribuana Tunggadewi adalah ratu Majapahit yang berkuasa pada abad ke-14.

Salah satu perancang busana yang siap menggebrak panggung MBF adalah Dwi Iskandar dari Bali. Dengan label Dwico, Dwi akan menghadirkan koleksi busana rancangannya yang bertema “Muda Muda”. Tema ini dipilih Dwi untuk mengajak generasi muda agar mau berbusana batik. Busana batik karyanya dirancang sesuai dengan gaya anak muda zaman sekarang. “Batik bukan kuno, tapi batik itu adalah kekayaan kita yang wajib kita junjung tinggi,” papar Dwi. “Tugas kami sebagai desainer adalah bagaimana menciptakan busana yang tidak ribet dan bisa diterima kalangan milenial.”

Untuk menyiapkan koleksi busananya kali ini, Dwi dibantu tiga UMKM dari Mojokerto guna mendorong bangkitnya semangat UKM di Indonesia. Ada tiga perajin batik yang menyediakan bahan untuk karyanya, yaitu Sofia, Bado dan Dar.

Batik Mojokerto motif sisik grinsing dikreasi Dwi menjadi busana kekinian bergaya fleksibel dan multifungsi. “Jadi, satu item bisa dipakai dengan berbagai look dan style,” jelas Dwi.

Dwi Iskandar

Melalui ajang peragaan busana ini, Dwi berharap batik Mojokerto bisa lebih dikenal oleh khalayak luas. Ia ingin batik Mojokerto tidak hanya diketahui oleh masyarakat di Mojokerto, tapi juga publik di Indonesia, bahkan dunia internasional. Untuk target awal, masyarakat Mojokerto diharapkan bisa lebih bangga dengan kekayaan budaya asli mereka sendiri.

Dwi mengakui, batik masih sering dianggap kuno. Jika bicara batik, kesannya “berat”. Kesan itulah yang ingin diubahnya dengan membidik selera generasi muda. “Gaya mereka kita ikuti. Modern fashion tetap harus kita ikuti dan adopsi juga, sehingga gayanya lebih muda dan kekinian, cocok untuk pasar generasi milenial. Target saya, generasi muda bisa tampil muda dengan batik,” ungkap Dwi serius tentang koleksinya kali ini.

Dalam MBF yang diadakan pertama kalinya ini, Dwi Iskandar akan menampilkan 12 busana wanita dan 4 busana pria. NAWABALI

 

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *