Pemutaran Film Karya Erick EST di Antida SoundGarden

 

Philius menitikkan air mata. Laki-laki Dayak ini tiba di bekas kampung kelahirannya yang berpuluh-puluh tahun ditinggalkannya. Long Sa’an, desa gunung di pedalaman Kalimantan, telah diambil alih alam. Hanya belukar dan kubur tua yang tersisa.

Warga Long Sa’an, suku Dayak Kenyah, pada akhir 1960-an pindah dari tanah leluhur mereka. Alasannya, lokasi terpencil di tengah rimba menyulitkan mereka untuk beroleh kebutuhan hidup, seperti garam dan layanan medis.

Dalam film dokumenter Long Sa’an: The Journey Back, sutradara Erick EST merekam perjalanan pulang kampung enam orang Dayak ke Long Sa’an. Mereka ditemani sejumlah warga Indonesia dan orang Barat. Ada musikus Gede Robi Navicula dari Bali, fotografer David Metcalf, Kevin Locke yang berdarah Indian dll.

Rombongan menempuh perjalanan berat ke jantung Kalimantan. Mereka mendaki gunung, menembus hutan lebat dan menyusuri sungai deras penuh jeram ganas.

Film Long Sa’an menjadi sajian utama acara pemutaran film karya Erick EST yang digelar di Antida SoundGarden, Denpasar. Berlangsung pada Jumat, 24 Januari, program ini menampilkan dua film garapan sutradara kenamaan Bali itu.

Erick mengaku terlibat dalam proyek perjalanan ke belantara Kalimantan itu karena ajakan Gede Robi, vokalis Navicula, grup musik yang dikenal peduli dengan masalah lingkungan. Keterlibatan Erick itu membuktikan komitmennya untuk menghadirkan film-film bermutu yang menggugah kesadaran.

“Film Long Sa’an menceritakan tentang tidak adanya akses suku pedalaman Dayak Kenyah ke kota. Film ini membuka mata kita betapa penting mengetahui semua hal yang berakar dari kearifan lokal,” ujar Erick.

Erick EST

Dalam sesi tanya-jawab dengan penonton, Erick mengungkapkan kebanggaannya atas sambutan hangat masyarakat Dayak terhadap karyanya. Ketika film Long Sa’an diputar di Setulang, desa di pedalaman Kalimantan yang banyak dihuni warga asal Long Sa’an, masyarakat Dayak dari kawasan sekitar berbondong-bondong datang menyaksikan.

“Kaum tua jadi bersemangat menceritakan kembali tentang Long Sa’an kepada generasi muda. Banyak generasi muda jadi ingin berkunjung ke tanah leluhur mereka,” kata sutradara yang sejumlah karyanya telah meraih penghargaan film internasional ini.

Selain film Long Sa’an, Erick menayangkan video klip lagu “Beautiful Mess” dari grup musik Balian. Ia memang dikenal sebagai pembuat video klip musik yang produktif. Video klip ini didukung penampilan spesial JRX (Jerink) dari grup musik Superman Is Dead dan istrinya, Nora, sebagai pemeran dramatisasi.

Bukan Antida SoundGarden namanya jika tak ada sajian musik. Acara tayang film Erick EST juga dimeriahkan penampilan musik dari Soul and Kith, Zio dan Balian. Ardy dan Aik dari Soul and Kith tampil membawakan sejumlah lagu folk mereka yang sarat pesan lingkungan. Zio dkk. menghangatkan suasana dengan sentuhan musik mereka yang energik.

Soul and Kith

Zio

Acara ditutup dengan penampilan garang Edward, Aaron dan Gembul dari Balian. Gede Robi juga sempat didaulat naik panggung untuk membawakan lagu.

Balian bersama Gede Robi

Mahasiswa dari beberapa kampus tampak antusias mengikuti acara. “Kami sengaja mengundang kampus-kampus untuk menikmati acara ini, supaya edukasi film ini berhasil dilakukan,” ungkap Anom Darsana, pemilik Antida SoundGarden. NAWABALI

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *