Reggae Santai di Hari Minggu

 

Reggae di Bali tak ada matinya. Musik asal Jamaica ini kembali menggebrak Pulau Dewata.

Sederet band reggae Bali beraksi di panggung Antida SoundGarden Denpasar pada Minggu petang, 2 Februari. Dalam acara bertajuk “Sunday Reggae Santay Bali Reggaeneration”, mereka tampil memuaskan dahaga para penggemar musik reggae di Denpasar.

Acara ini digerakkan oleh komunitas musik reggae yang menamakan diri sebagai Bali Reggaeneration. Inilah gebrakan pertama mereka setelah sempat vakum selama tiga tahun.

Seperti yang tersirat dari namanya, Bali Reggaeneration dibentuk untuk mengawal regenerasi di dunia musik reggae. Mereka ingin musik reggae terus hidup dari generasi ke generasi. “Kami berharap memunculkan terus regenerasi musik reggae di Bali, agar musik reggae di Bali dapat menjaga eksistensinya,” ungkap Made Mayun, Ketua Bali Reggeaneration.

Mayun mengakui, selama ini Bali Reggaeneration bisa berkiprah berkat dukungan banyak pihak. “Saat ini finansial kami memang masih nol. Semasih ada peluang dengan pihak manapun yang dapat diajak bekerja sama dengan Bali Reggaeneration, tentu kami bersemangat. Hal ini tentu membuka ruang yang lebih besar dalam menjaring musisi-musisi reggae muda Bali,” tuturnya.

Gelaran “Sunday Reggae Santay Bali Reggaeneration” dimulai pada pukul 5 sore. Sebarisan band Bali bergantian menggoyang panggung dengan irama khas reggae.

Ada band pendatang baru, Lubak Q_ul. Hadir pula grup yang namanya tak kalah unik, Upah Hidup. Sandi Lazuardi, yang dikenal sebagai pemain saksofon dari band Double T, tampil dengan grupnya sendiri. Soullast memanaskan suasana dengan aksi personel-personelnya yang sudah teruji di belantara musik reggae Bali. Tak ketinggalan, band yang sudah tidak asing lagi di telinga para pecinta reggae, The Gunturs.

Acara semakin meriah dengan penampilan band reggae Revelation. Rasta Flute memberi suasana lain dengan permainan suling yang menjadi ciri khasnya. Karniforasta tampil bertenaga dengan musikus-musikus mudanya yang sangat mencintai reggae. Sekumpulan anak muda bertalenta juga beraksi di bawah bendera band reggae Vermilion.

Pentas musik reggae ini diramaikan pula dengan kehadiran Tamu Misterius. Siapa dia? Ternyata Tamu Misterius itu adalah Small Axe dan Joni Agung.

Tak ayal, ketika mendengar nama Joni Agung, anak-anak muda yang memadati tempat acara langsung heboh. Mereka berjoget penuh semangat mengikuti irama reggae yang menggelegar dari panggung.

Bukan tak mungkin mereka percaya bahwa reggae bukan sekadar genre musik. Bukan sekadar hiburan. Mungkin semua yang merayakan reggae di hari Minggu itu yakin reggae juga filosofi dan cara hidup. Yang jelas, mereka semua pasti sepakat: reggae tak akan pernah mati. NAWABALI

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *