Teknologi Melawan Virus Corona

 

Virus corona menghantui dunia.

Menurut laporan WHO pada 11 Maret, COVID-19 telah menginfeksi 118.326 orang di dunia. Sebanyak 4.292 orang meninggal. Jumlah korban terbanyak berada di Tiongkok. Negeri Tirai Bambu mencatatkan 80.955 kasus, dengan 3.162 pasien menemui ajal.

Sebagai negara yang terdampak paling parah, Tiongkok lantang menyerukan perang terhadap penyebaran virus corona. Salah satu caranya dengan mengerahkan kekuatan teknologi canggih.

Aneka teknologi digunakan untuk mengidentifikasi gejala infeksi virus corona, mencegah penularan, menemukan perawatan baru dan memantau penyebaran penyakit berbahaya itu.

Sejumlah perusahaan Tiongkok telah mengembangkan teknologi otomatisasi untuk mengirim barang tanpa melibatkan kontak fisik manusia, menyemprotkan obat pembasmi kuman, dan melakukan diagnosis awal. Tujuannya meminimalkan risiko penularan virus.

Pudu Technology telah memasang mesinnya di lebih dari 40 rumah sakit di Tiongkok untuk membantu staf medis. Perusahaan yang bermarkas di Shenzhen ini dikenal sebagai pembuat robot untuk industri katering.

MicroMultiCopter, juga di Shenzhen, memproduksi pesawat nirawak (drone) untuk mengangkut sampel medis dan mendeteksi suhu tubuh.

Kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) juga dikerahkan untuk membantu mendiagnosis penyakit dan mempercepat pengembangan vaksin.

Raksasa e-commerce Tiongkok, Alibaba, mengembangkan sistem diagnosis baru yang diperkuat AI. Sistem ini diklaim dapat mengidentifikasi infeksi virus corona dengan akurasi 96%.

Tak ketinggalan, teknologi pengawasan canggih dikerahkan untuk mendeteksi individu yang terinfeksi dan mengawal karantina.

Kamera pengenal wajah sudah banyak digunakan di Tiongkok. Kini teknologinya ditingkatkan oleh berbagai perusahaan. Kamera pengenal wajah difungsikan untuk mendeteksi penderita demam di tengah kerumunan orang dan mengidentifikasi orang yang tidak mengenakan masker.

Perusahaan AI terkemuka, SenseTime, mengembangkan perangkat lunak pendeteksi suhu tubuh yang tidak membutuhkan kontak fisik. Perangkat ini telah digunakan di stasiun kereta bawah tanah, sekolah dan pusat komunitas di Beijing, Shanghai dan Shenzhen.

SenseTime juga membuat alat yang dapat mengenali wajah, termasuk wajah yang tertutup masker. Tingkat akurasinya diklaim relatif tinggi.

Perusahaan AI lainnya, Megvii, ikut mengeluarkan produk pendeteksi suhu tubuh. Alat ini telah digunakan di Beijing.

Pemerintah kota Chengdu di Provinsi Sichuan melengkapi aparatnya dengan helm pintar yang dapat mengukur suhu tubuh orang dalam radius 5 meter. Helm akan membunyikan alarm jika mendeteksi demam.

Ponsel juga digunakan untuk melacak penyebaran virus corona.

Aplikasi bernama Alipay Health Code memberikan sinyal hijau, kuning atau merah kepada pengguna. Sinyal tersebut menunjukkan apakah individu boleh pergi ke ruang publik atau harus tinggal di rumah.

Menurut perusahaan pengembangnya, Ant Financial, Alipay Health Code menggunakan data besar (big data) untuk mengidentifikasi orang yang berpotensi membawa virus corona. Aplikasi ini telah dipakai di lebih dari 200 kota di Tiongkok.

Fitur pelacakan serupa yang berbasis kode QR dikembangkan oleh Tencent, perusahaan di balik aplikasi pesan populer, WeChat.

Aplikasi “detektor kontak dekat” memberi tahu pengguna apakah terjadi kontak dekat antara pengguna dan orang yang positif atau diduga terinfeksi virus corona. Pengguna cukup memindai kode QR dengan aplikasi seperti Alipay atau WeChat. Orang yang berisiko kemudian disarankan tinggal di rumah atau melapor ke otoritas kesehatan setempat.

Setelah nomor teleponnya ditautkan dengan aplikasi, pengguna diminta mengisi nama dan nomor KTP. Aplikasi kemudian dapat digunakan mengecek status tiga nomor KTP. Aplikasi yang dikembangkan oleh kolaborasi Pemerintah Tiongkok dan China Electronics Technology Group Corporation ini menggunakan data dari otoritas kesehatan dan transportasi.

Lain di Tiongkok, lain pula di Amerika Serikat.

Di kawasan Times Square, New York City, ada robot yang bisa dimintai informasi tentang virus corona. Robot ini tidak mendeteksi virus corona. Ia hanya menanyakan gejala-gejala virus corona kepada orang lewat yang tertarik, lalu menentukan seberapa besar kemungkinan orang itu terinfeksi virus. Robot berwajah ramah ini dikembangkan oleh startup dari Philadelphia yang membuat robot layanan otonom untuk bisnis. NAWABALI/berbagai sumber

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *