GEGURITAN SALAMPAH LAKU: Seorang Wiku yang Memberi Tanda

Bagian Dua

 

Salampah laku” adalah istilah yang digunakan oleh pengarang Ida Pedanda Made Sidemen. “Salampah” berasal dari kata “lampah” (=laku), yang artinya perjalanan. Berdasarkan hal tersebut, secara idiom, “salampah” dapat diartikan “setiap langkah”, dan “laku” berarti “perjalanan”. Dengan demikian, “salampah laku” dapat pula diartikan sebagai kisah yang memuat setiap langkah perjalanan Ida Pedanda Made Sidemen dalam perburuan ilmu ke Gria Mandaragiri.

Geguritan Salampah Laku merupakan sebuah puisi naratif yang menceritakan tentang perjalanan Ida Pedanda Made Sidemen bersama istrinya yang setia mengiringi untuk menuju pendakian ilmu ke Gria Mandaragiri.

Identitas pengarang pada beberapa karya sastra terkadang tidak dimunculkan. Identitas tersebut dapat tersembunyi pada sebuah kata atau istilah yang harus digali sendiri oleh pembaca. Demikian halnya dengan Ida Pedanda Made Sidemen. Sepertinya tanda-tanda itu sengaja beliau gunakan sebagai ruang penafsiran.

Banyak hal yang dilalui Ida Pedanda Made Sidemen bersama sang istri. Penceritaan yang kuat, pendeskripsian suatu kejadian, tempat dan waktu dalam penceritaan, menjadi sangat disayangkan jika dilewatkan oleh para pengamat sastra. Sangat jarang dijumpai sebuah teks sastra yang dengan baik dan mendetail mengungkapkan perjalanan dan kisah hidup pengarangnya sendiri.

Ida Pedanda Made Sidemen adalah pengarang Geguritan Selampah Laku, yang merupakan kisah historis hidupnya. Akan tetapi, pengarang Ida Pedanda Made Sidemen memiliki teknik atau gaya penceritaan yang unik.

Ida Pedanda Made Sidemen tidak secara terang dalam tulisannya menggambarkan identitas dirinya. Selain itu, pengarang seolah mengajak pembaca untuk memahami istilah-istilah menarik yang digunakannya. Misalnya dalam kutipan berikut yang mengungkapkan identitas beliau:

Tityang mawangśa ring Idha sang mahāmuni,

Sang lĕphas ring taman sĕkar,…

Terjemahan:

Saya yang berasal dari keturunan orang yang maha suci

yang pergi dari taman bunga…

Taman sekar” menjadi pilihan istilah Ida Pedanda Made Sidemen untuk mengungkapkan tempat atau asal kelahiran beliau, yakni Gria Intaran Sanur atau Gria Taman yang ada di Desa Sanur, Kecamatan Denpasar Selatan. Selain itu, digunakannya kata “sang mahamuni” menguatkan bahwa kisah yang digambarkan dalam teks merupakan kisah perjalanan hidupnya sebagai seorang pendeta.

Terdapat gaya penceritaan unik lainnya mengenai penamaan tempat atau peristiwa dalam kisah ini. Arah perjalanan beliau menjadi bukti bahwa kisah ini milik Ida Pedanda Made Sidemen yang berasal dari Desa Sanur, suatu daerah yang berada di selatan. Desa Sanur merupakan desa yang dekat dengan garis pantai.

Ida Pedanda Made Sidemen secara terang menuliskan perjalanannya dengan menggunakan hubungan antarkata dalam ungkapan “lor wetan“, yang artinya selatan-timur. Maksudnya adalah Ida Pedanda Made Sidemen beserta istrinya berjalan menyusuri garis pantai, “pasir“, dari arah selatan ke timur, yakni ke daerah Karangasem yang terletak di bagian timur Pulau Bali.

Dalam konsep Hindu di Bali, arah timur atau utara merupakan arah yang suci. Hal ini berdasarkan atas keberadaan gunung sebagai hulu, “lingga acala“.

Tan warnnaněn Lor Wētan lumaris

Salangö ning pasir

Terjemahan:

Diterangkan dari arah selatan lalu menuju ke timur

Dibuai oleh keindahan pasir (pantai)

Pada akhirnya, setelah melalui daerah Samara Pura (Klungkung) dan berjalan lagi ke arah utara, maka tibalah beliau di Gria Mandaragiri, Desa Sidemen, Karangasem. Setibanya di sana, beliau menyebut dirinya sebagai “Ki Pariwara“, yang artinya seorang pengikut. Melalui penggunaan istilah nama ini, semakin kuat tergambarkan sosok Ida Pedanda Made Sidemen yang rendah hati sekaligus berwawasan luas.

Ki Pariwara pukulun

nora jarumanē

Terjemahan:

Seorang pengikut dari Tuanku

Tanpa perintah

Ida Pedanda Made Sidemen memang banyak memiliki gaya penamaan untuk dirinya sebagai tokoh cerita yang ia karang. Ada penamaan untuk beliau sebagai sosok yang senang akan pengembaraan dan usaha pemerolehan ilmu dengan usaha dan kerja keras yang senantiasa diperlukan. Pemaknaan ini didapatkan dari istilah “pandhittaning paksi” yang dipilih Ida Pedanda Made Sidemen di antara banyak perumpamaan lain yang dapat ia gunakan. “Pandhittaning paksi” berarti seorang pendeta yang bagaikan seekor burung yang terbang mengumpulkan sari-sari pengetahuan dan hakikat hidup kesederhanaan menjadi hal yang penting.

makā pāndhittaning pāksi

kakěnan upayā

Terjemahan:

bagaikan seorang pendeta yang menyerupai burung

untuk mencapai tujuan

Dengan membaca kisah Ramayana dan Mahabharata, kita akan beroleh hakikat mengenai kehidupan dan kepemimpinan. Dapat dikatakan bahwa dengan membaca dan memahami Geguritan Salampah Laku, hakikat hidup dalam perburuan ilmu dan kesederhanaan akan kita peroleh.

Menguasai pengetahuan dan melaksanakan pengetahuan sebagai suatu tindakan kerja sepertinya sesuai dengan kisah perjalanan Ida Pedanda Made Sidemen yang meninggalkan sejenak tempat kelahirannya untuk memperoleh ilmu dari Ida Pedanda Rai, gurunya. Beliau akhirnya memperoleh tujuan yang diharapkan.

 

LUH YESI CANDRIKA, pemerhati sastra Bali

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *