Saras Dewi: Menjaga Bumi, Merawat Tradisi Masa Lalu Bali

 

DR. LG. Saraswati Putri Dewi, M.Hum., yang akrab dipanggil Saras Dewi, dikenal publik sebagai penyanyi, pengarang, aktivis, dan dosen filsafat di Universitas Indonesia. Kiprah perempuan kelahiran Denpasar, 16 September 1983, ini bisa menjadi inspirasi bagi perempuan lain untuk lebih peduli kepada kebudayaan. Salah satunya adalah memprakarsai berdirinya museum Tari Sang Hyang Dedari di Karangasem, Bali. Museum yang berisi koleksi tentang salah satu tari sakral Bali yang sudah langka ini baru saja diresmikan pada November 2019.

Berikut wawancara Nawabali.id dengan Saras Dewi tentang Museum Sang Hyang Dedari Giri Amertha.

Bagaimana ceritanya hingga muncul ide membangun museum Tari Sang Hyang Dedari?

Pada mulanya, saya mengetahui tentang Sang Hyang Dedari dari cerita-cerita niang (nenek). Niang, Sunarti Dhama, bercerita kepada saya bahwa dahulu, kompiang (leluhur) adalah penari Sang Hyang Dedari. Niang saya bercerita bagaimana ajaibnya Tari Sang Hyang Dedari. Kompiang saya diyakini memiliki kekuatan gaib karena dirasuki oleh roh dedari. Cerita itu melekat dalam hati saya. Bahkan hingga dewasa, saya terus mencari Tari Sang Hyang Dedari. Saya mengusulkan ke atasan saya sekiranya dapat melakukan riset mendalam tentang Tari Sang Hyang Dedari. Kampus mendukung, dan menugaskan saya untuk melakukan pendokumentasian Tari Sang Hyang Dedari. Namun, saat melakukan riset awal pada tahun 2015, saya menyadari betapa sulitnya mencari informasi tentang tarian tersebut. Di antara tari Sang Hyang yang lain, Sang Hyang Dedari merupakan tari yang paling langka. Kita masih dapat menjumpai Tari Sang Hyang Jaran di beberapa daerah di Bali, khususnya di Gianyar.

Pada tahun 2016, saya berjumpa dengan prajuru desa, I Wayan Bratha, di Desa Geriana Kauh, Duda Utara, Karangasem. Dari pertemuan itulah saya memahami bahwa desa adat Geriana Kauh masih konsisten menyelenggarakan Tari Sang Hyang Dedari. Untuk menjaga pengetahuan yang langka ini, saya mengusulkan membentuk kerja sama antara desa adat dengan UI (Universitas Indonesia) untuk membangun museum Tari Sang Hyang Dedari. Untuk merealisasikan ini, UI melalui Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat memberikan pendampingan untuk mewujudkan museum tersebut.

Apa konsep museum Tari Sang Hyang Dedari?

Konsep museum ini adalah suatu museum komunitas yang dikelola secara mandiri dan didirikan atas buah pikiran dan kepedulian masyarakat setempat. UI dalam posisi ini memberikan pendampingan, khususnya dalam kaitan dengan pelatihan pengelolaan museum, menyusun konten museum bersama warga. Museum ini adalah museum yang hidup, sebab Tari Sang Hyang Dedari sebagai ritual merupakan peristiwa yang kompleks, melibatkan struktur masyarakat sebagai penopangnya. Jadi, museum ini juga menggarisbawahi warga desa adat yang menjadi pemikul budaya ini. Museum ini tidak saja menjelaskan Tari Sang Hyang Dedari sebagai deskripsi ritual, tetapi juga menjelaskan hubungannya yang erat dengan aktivitas pertanian di Geriana Kauh.

Harapan apa yang ingin ditaburkan ke masyarakat Bali, juga masyarakat Indonesia?

Harapan museum ini adalah bagaimana tradisi kuno ini tetap lestari, dan generasi masa depan dapat memahami betapa pelik dan pentingnya menjaga tradisi, khususnya yang menyimpan pengetahuan leluhur mengenai kelestarian alam. Tari Sang Hyang Dedari sarat akan pesan kehidupan yang seimbang antara manusia, alam dan Tuhan. Tari Sang Hyang Dedari di Desa Geriana Kauh sempat vakum untuk waktu yang lama, hingga pada tahun 1999 dibangkitkan kembali setelah punah semenjak tahun 1960-an. Warga menghidupkan tarian ini kembali sebagai bentuk mulat sarira, mengembalikan relasi yang harmonis antara manusia, alam dan Tuhan. Besar harapan saya, pengetahuan-pengetahuan lokal di Bali tetap terjaga, melalui pendokumentasian yang lebih baik.

Kenapa tertarik dengan Sang Hyang Dedari, bukan tari yang lain?

Bagi saya, Tari Sang Hyang Dedari menunjukkan suatu pemujaan terhadap bumi dalam wujudnya sebagai Dewi Sri. Suatu pemujaan kuno yang diduga merupakan praktik praHindu (menurut Prof. Edi Sedyawati). Saya selalu tertarik dengan aspek-aspek lingkungan hidup yang lekat sekali berkelindan dengan ritual di Bali.

Bagaimana sistem pengelolaan museum Tari Sang Hyang Dedari?

Museum ini dikelola secara swadaya oleh masyarakat, memiliki penanggung jawab dan anggota. Bersamaan dengan museum ini, dibentuk pula Yayasan Sang Hyang Dedari yang beranggotakan warga desa adat, sehingga kesinambungan museum ini dapat terjamin.

Saras Dewi

Pada masa depan, kira-kira museum ini akan dikembangkan ke mana?

Saat ini masyarakat masih mengupayakan pengembangan museum dalam tingkat paling dasar, khususnya memperkaya materi pengetahuan ataupun juga menambah koleksi dan peraga untuk melengkapi narasi yang ingin disampaikan di museum. Di masa depan, rencana jangka panjang museum ini adalah dapat menyimpan informasi yang komprehensif tentang Tari Sang Hyang Dedari, sehingga memudahkan bagi periset-periset untuk menggali pengetahuan dan melakukan penelitian lanjutan.

Mengingat masyarakat kita masih belum menghargai museum, kira-kira bagaimana caranya agar museum ini menarik minat orang untuk berkunjung?

Dalam perkembangannya, kami ingin museum ini menjadi ruang perjumpaan untuk mendiskusikan dan berdialog tentang budaya. Kami sudah merencanakan festival bertema pertanian yang bermuara pada museum Tari Sang Hyang Dedari. Festival yang diselenggarakan di areal museum menunjukkan bahwa citra museum lebih dari sekadar tempat menyimpan artefak. Museum yang hidup ini menekankan pada partisipasi, juga interaksi yang berkelanjutan.

Kenapa museum ini dibangun di desa?

Warga menekankan bahwa Tari Sang Hyang Dedari merupakan tarian sakral yang hanya diselenggarakan sesuai penanggalan suci menurut kepercayaan mereka. Maka, museum ini merupakan ruang belajar mengenai tari langka ini, tanpa mengganggu kesakralan tersebut. Alasan dibangun di desa, karena museum tersebut menjadi monumen bagi warga, bahwa mereka berdaya dalam menjaga tradisi leluhur mereka, dan mereka ingin berbagi dengan masyarakat pada umumnya.

Harapan kami, orang-orang yang datang ke museum dapat langsung bercengkerama dengan warga adat Geriana Kauh. Sering kali tujuan pariwisata di Bali masih menekankan pada aspek hiburan semata, juga atraksi-atraksi, tetapi mengabaikan edukasi. Dengan mengunjungi desa, pengunjung museum dapat menyaksikan langsung, di luar museum, bagaimana masyarakat tradisional menjalankan pertanian yang berkelanjutan dan peka terhadap lingkungan hidup.

Bagaimana tanggapan warga Karangasem terhadap museum ini?

Warga Karangasem sangat antusias. Mudah-mudahan daerah-daerah lainnya juga termotivasi untuk membangun museum komunitas dengan menampilkan tradisi-tradisi leluhur yang dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Indonesia, juga masyarakat mancanegara.

Apakah ada keinginan mengembangkan museum seperti ini di tempat lain?

Tentu. Di masa depan, saya ingin terus terlibat dengan penguatan desa, juga pelestarian tradisi dan adat di wilayah Bali lainnya. Saya juga ingin fokus mendampingi perempuan-perempuan Bali di pedesaan. Terkait dengan museum, saya berharap dapat membagikan pengalaman ini melalui penerbitan buku khusus yang membahas Tari Sang Hyang Dedari dari perspektif filosofis.

Terkait museum lainnya, saya memiliki impian untuk membuat museum khusus yang mendokumentasikan tradisi Segara Kertih di Bali. Mungkin dapat berlokasi di desa pesisir yang kuat tradisi baharinya. Namun ini masih impian semata. Saat ini tenaga dan pikiran saya masih terpusat untuk membantu warga adat Geriana Kauh.

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *