El Greco di Paris

 

Oktober 2019 – Februari 2020, karya-karya El Greco dipamerkan di Paris. Jafar Suryomenggolo menulis tentang pameran besar sang maestro seni lukis dunia.

 

El Greco. Namanya tidak banyak dikenal di tanah air kita, kecuali mungkin di kalangan kecil pelukis. Juga mungkin, di kalangan umat Kristiani yang mengenal beberapa lukisan rohani karyanya yang nampak misterius.

Doménikos Theotokópoulos, nama asli El Greco, memang salah satu pelukis yang punya gaya tersendiri. Karena itu pula, ia kerap diduga sebagai orang gila, bidah, bahkan mistis. Di kalangan pelukis, ia dikenal karena lukisannya menggunakan warna-warna cemerlang nan kontras.  Beberapa pelukis ternama dunia mengagumi karya-karyanya, bahkan terinspirasi dan memujanya.

Sejak 16 Oktober 2019 hingga 10 Februari 2020, sebanyak 75 lukisan El Greco dihadirkan dalam pameran “El Greco: Rétrospective” di kota Paris, Prancis. Karya-karya yang dipamerkan di gedung Grand Palais itu didatangkan dari sejumlah museum di banyak negara: Prancis, Spanyol, Jerman, Swedia, Hongaria, Amerika Serikat dan Inggris.

Lukisan Santo Petrus dan Santo Paulus, yang dilukis sekitar 1595-1600. Koleksi Museum Nasional Stokholm (Swedia). Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Menariknya, selama masa pameran ini, terdapat beberapa kegiatan seni yang terkait. Antara lain, acara diskusi dengan kurator museum tentang seni El Greco (16 Oktober 2019), diskusi sejarah seni tentang pengaruh El Greco (18 Desember 2019) dan pemutaran film dokumenter tentang El Greco (13 November & 18 Desember 2019, 8 Januari & 22 Januari 2020). Jadi, pameran ini ditunjang beragam kegiatan seni yang mengajak publik untuk lebih mengenal El Greco.

Siapa El Greco?

El Greco dilahirkan pada sekitar tahun 1541 di Kreta (kerajaan Kandia), bagian dari Yunani, yang pada saat itu adalah koloni Republik Venesia. Ia melalui masa mudanya di tanah kelahirannya itu. Melalui beberapa lukisannya, dapat kita ketahui masa tersebut punya dampak yang mendalam baginya.

Beberapa buku tentang El Greco yang dijual saat pameran. Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Sekitar tahun 1567, El Greco pindah ke Venesia, sebuah kota yang dinamis. Ia terbawa dalam arus kosmopolitanisme. Ia pun mengadopsi gaya seni khas Venesia, dan kemudian menggabungkannya dengan gaya Bizantin dari kota kelahirannya. Di kota ini pula, ia mulai mengenal arus pembaharuan yang dibawa Abad Renaisans dan membawa angin segar dalam berbagai bidang seni, termasuk seni lukis.

Dari Venesia, El Greco pindah ke Roma pada tahun 1570. Ia menetap di kota abadi ini selama enam tahun. Selama itu pula, ia mulai mengukir namanya. Ia banyak menerima permintaan lukisan potret diri dari beberapa bangsawan dan pejabat gereja. Meski begitu, di kota ini ia kerap dipandang sebagai “orang asing”. Ia tidak memiliki seorang patron yang berkenan menampungnya sebagai pelukis tetap.

Beberapa lukisan potret diri bangsawan dan pejabat gereja karya El Greco. Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Dewi keberuntungan datang dari kerajaan Kastila (Spanyol). Kota Toledo, yang saat itu lebih maju daripada kota Madrid, sedang berkembang pesat. El Greco pindah ke Toledo pada tahun 1577. Di kota ini, ia menerima permintaan lukisan dari kaum bangsawan dan juga sang raja. Di sini pula ia mulai dikenal dengan sebutan “El Greco” – yang dalam bahasa Spanyol berarti “Si Orang Yunani”. Ia menetap di kota Toledo hingga akhir hayatnya pada tahun 1614.

Kesempatan Langka

Pameran retrospeksi El Greco di Paris ini dirancang dengan sangat baik demi kenyamanan pengunjung. Lukisan-lukisan disajikan dengan latar putih. Maksudnya agar warna-warna dalam lukisan langsung terpancar dengan jelas.

El Greco memang banyak menggunakan warna-warna cemerlang dari bahan-bahan yang tidak lazim pada zamannya, sehingga proses restorasi lukisannya tidak mudah untuk zaman kita sekarang. Latar putih juga membantu kita untuk mengenali gaya lukisannya, yang mengundang beragam tafsir dan perdebatan seputarnya.

Menariknya pula, lukisan-lukisan dengan tema sejenis disandingkan berdampingan (juxtaposé) dalam pameran ini. Lukisan-lukisan tersebut ditata sejajar dan ditempatkan pada dinding tersendiri. Dengan cara ini, pengunjung dapat mengenali moda-moda persamaan dan perbedaan yang hadir pada lukisan-lukisan itu.

Dua lukisan tentang pertobatan Santa Maria Magdalena. Kiri: dilukis sekitar 1584, koleksi Museum Seni Worcester (Amerika Serikat). Kanan: dilukis sekitar 1576-1577, koleksi Museum Seni Budapest (Hongaria). Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Menghadirkan lukisan-lukisan tema sejenis tidaklah mudah, sebab mengandalkan kerja sama antarmuseum yang memiliki koleksi lukisan tersebut. Jadi, pameran ini juga membantu pengunjung untuk menikmati lukisan-lukisan tersebut di bawah satu atap. Para pecinta seni tidak perlu mengunjungi berbagai museum (di banyak negara pula!) untuk melihat langsung karya-karya El Greco. Suatu kesempatan langka!

Dua lukisan tentang Yesus mengusir para pedagang dari rumah Tuhan. Pameran ini menghadirkan 4 lukisan dengan tema sejenis. Keempat lukisan tersebut dilukis dalam rentang waktu panjang. Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Pameran ini juga mengajak pengunjung melihat pengaruh El Greco dalam seni lukis modern, terutama Kubisme. Pablo Picasso pernah menyebutkan dengan lantang bahwa El Greco adalah satu sumber inpirasinya yang utama. Bahkan, Picasso menafsir-ulang beberapa karya El Greco. Misalnya, lukisan “Penguburan Casagemas” (L’enterrement de Casagemas) yang diakui Picasso terinspirasi oleh lukisan “Penguburan Bangsawan Orgaz” (El entierro del señor de Orgaz) karya El Greco. Picasso juga pernah mengatakan bahwa lukisan “Keluarga Kudus” karya El Greco menghantarnya ke aliran Kubisme.

Dua lukisan tentang “Keluarga Kudus” (La Sainte Familie). Kiri: dilukis sekitar tahun 1600, koleksi Museum Seni Cleveland (Amerika Serikat). Kanan: dilukis sekitar 1580-1585, koleksi Asosiasi Masyarakat Hispanik New York. Foto koleksi Jafar Suryomenggolo.

Pameran di kota Paris ini jelas pameran akbar El Greco. Selama ini tidak ada pameran lukisan El Greco yang mampu menghadirkan 75 karya dari berbagai museum di banyak negara. Tidak mengherankan, pameran ini berhasil menyedot banyak pengunjung, termasuk juga turis asing, untuk menikmati kesempatan langka tersebut.

 

JAFAR SURYOMENGGOLO bermukim di Paris

Bagikan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *